Latest News

Khasiat Bunga Alamanda

bunga alamanda
alamanda

Nama lokal:
Lame areuy (Sunda); coblong-coblongan (Bali)

Nama asing: Golden trumpet, allamanda (Amerika); kampanero, kampanilya (Filipina); akar chempaka hutan, bunga akar kuning (Malaysia); ban buri lueang (Thailand); huynh anh, dlaaly h u [yf] n h (Vietnam)

Ikhtisar

Tanaman asli Brasil itu dikenal sebagai tanaman hias merambat. Getahnya yang berwarna putih susu dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata. Di Indonesia, alamanda dijadikan tanaman hias pekarangan atau menutup pergola. Tanaman tumbuh cepat dengan bantuan tegakan untuk merambat.
Kandungan Kimia

Fraksinasi ekstrak EtOAc alamanda menggunakan strain ragi Sc-7 menghasilkan isolasi plumericin dan isoplumericin dengan tingkat toksisitas rendah. Biji alamanda mengandung trlolein, tripalmitin, dan stearin.


Pemanfaatan Alamanda


Di Jawa, infusa tanaman digunakan untuk mengatasi batuk dan sakit kepala. Daun tanaman alamanda dikenal dapat memperlancar buang air besar dan menyembuhkan demam. Namun, efek penggunaannya menyebabkan muntah-muntah dan diare. Sedangkan Akar umumnya digunakan untuk mengobati penyakit kuning dan malaria. 

Sesuai namanya, cothortico, alamanda bersifat cathartic alias merangsang buang air besar. Di India, kulit batang alamanda dijadikan obat laksatif-obat yang berfungsi membantu menyembuhkan sembelit dengan cara membuat kotoran mudah bergerak di dalam usus.
Tanaman ini termasuk ke dalam golongan perdu berkayu dengan tinggi yang dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun). Batangnya yang sudah tua akan berwarna coklat karena pembentukan kayu, sementara tunas mudanya berwarna hijau. Daunnya berbentuk hijau lancip ke ujung dengan permukaan kasar dengan panjang 6 - 16 cm, yang berkumpul 3-4 helai. Bunga Alamanda berwarna kuning bentuknya seperti terompet dengan diameter 5-7,5 cm, dan memiliki aroma yang harum.


Bunga ini dapat ditemukan di daerah sekitar sungai atau tempat terbuka yang terkena banyak sinar matahari dengan hujan yang cukup dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun. Suhu -1 derajat celsius dapat mematikan tanaman ini, karena bunga alamanda ini memiliki karakteristik yang sangat sensitif terhadap suhu dingin.


Selain memiliki bentuk dan warna yang cantik, Bunga Alamanda ini memiliki banyak manfaat. Bagian tanaman yang digunakan adalah akar, daun dan bunga untuk pengobatan.

  • Daun Alamanda memiliki kandungan alkaloida (senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tumbuhan)
  • Kulit batang dan buahnya mengandung saponin
  • Kulit batangnya mengandung tannin
  • Buahnya mengandung flavonoida (senyawa kimia aktif yang dijadikan sebagai obat penyakit hati) dan polifenol (zat kimia yang memiliki sifat antioksidan).
Manfaat lainnya yaitu getah bunga alamanda yang berwarna putih memiliki sifat anti bakteri dan juga antibiotik sehingga dapat dijadikan sebagai obat penyakit kanker dan pencegah kuman atau bakteri.
Bunga ini juga dapat digunakan untuk mencegah komplikasi dari malaria dan pembengkakan limpa, serta dapat digunakan untuk pengobatan penyakit kuning.

Daunnya digunakan untuk penawar racun dan dipakai sebagai ramuan herbal untuk penyakit bisul atau abses, eksim, dan kurap. Rasa daun bunga alamanda ini pedas, pahit, berkhasiat laksatif (pencahar) dan penyebab muntah (emetik).

Rupa Alamanda


Tanaman: Lantaran tidak bersulur, tanaman semak asli Brasil itu membutuhkan media untuk memanjat. Tanaman memanjat hingga tinggi 6 m. Diameter batang dapat mencapai 5 cm.

Daun: Daun mengandung getah berwarna putih susu. Tangkai daun 1-5 mm bahkan hampir tidak terlihat. Lembaran daun panjangnya sekitar 6-14 cm dengan sisi pendek 2,5-4,5 cm. Bagian bawah daun berwarna lebih pucat. Bentuk daun elips hingga bulat telur.

Bunga: Berwarna kuning dengan diameter bunga 8-10 cm.

Buah: Berwarna hijau. Tipe polong. Polong berduri seperti buah rambutan. Ukuran 2,54-7,62 cm.

Biji: Memiliki bagian tambahan berfungsi seperti sayap sehingga ketika wadah biji kering dan pecah, biji akan beterbangan.

Aktivitas Farmakologis


Antimikrob: Ekstrak daun alamanda menunjukkan aktivitas antimikrobial lemah hingga sedang. Aktivitas tingkat tinggi terlihat pada fraksi cair kloroform melawan Shigello dysenterioe dengan daya hambat 13 mm. Studi menggunakan kanamycin pada konsentrasi 30 µg/cakram sebagai kontrol positif.

Penetral efek hemorrhagic: Ekstrak daun, cabang, dan batangnya digunakan untuk menetralisir efek hemorrhagic (pendarahan hebat) akibat Bothrops otrox-ular berbisa yang biasa hidup di daerah tropis. Efek netralisasi berada pada tingkat moderat 21-72% dengan dosis hingga 4 mg/kg bobot tubuh tikus.

--------------
sumber
[1] Trubus, 100+ Herbal Indonesia 40-41
[2] Abdel-Kaderz MS, Wisse J, Evans R, van der Werff H, Kingston DG. 1997. Bioactive iridoids and a new lignan form Allamanda cathartica and Himatanthus fallaz from the Suriname rainforest. J Nat Prod. 1997 Dec:60(12):1294-7
[3] Islam, MR et al. 2010. In Vitro Antimicrobial Activities of four Medicinally Important Plants in Bangladesh. European Journal of Scientific Research. ISSN 1450-216x 39 (2). pp.199-206.
[4] Otero R et al. 2000. Snakbites and ethnobotany in the northwest region of Colombia, Part III: neutralization of the haemorrhagic effect of Bothrops atrox venom. J Ethnopharmacol. 73(1-2):223-241
[5] http://obattradisionalpenyakitamandel.blogspot.co.id/2014/11/khasiat-bunga-alamanda-untuk-kesehatan.html

0 Response to "Khasiat Bunga Alamanda"